PENGETAHUAN TENTANG ISTRI-ISTRI RASULULLAH SAW.

           Keadaan istri-istri dan anak-anak Nabi saw. tentu banyak yang ingin mengetahuinya. Dan setiap muslim perlu mengetahuinya. Untuk itu, secara ringkas akan dikemukakan di sini. Untuk lebih terperinci, tentu memerlukan kitab yang lebih tebal lagi.

Para muhaddits dan ahli Tarikh bersepakat bahwa istri-istri yang sudah dinikahi oleh Nabi saw. beijumlah sebelas orang. Dan yang menyatakan lebih dari itu, terdapat perbedaan pendapat mengenainya. Namun para muhaddits sepakat bahwa wanita yang pertama kali dinikahi ialah Khadijah.

1.              Khadijah r.ha.

Ia adalah seorang janda. Dinikahi Rasulullah saw., ketika Nabi saw. berusia 25 tahun, dan Khadijah r.ha. 40 tahun. Semua keturunan Nabi saw. berasal dari Khadijah r.ha., kecuali Ibrahim yang keterangannya akan dijelaskan pada kisah mendatang.

Pernikahan Khadijah pada mulanya sudah direncanakan oleh Waraqah bin Naufal. Namun pernikahan tersebut belum dapat terlaksana. Setelah itu, Khadijah r.ha. sudah menikah dengan dua orang lelaki. Terdapat perbedaan pendapat diantara para ahli sejarah. Siapakah diantara keduanya yang lebih dahulu menikah dengannya.

 

Pendapat terbanyak adalah bahwa suami pertamanya adalah Atik bin 'Aidz yang mendapatkan seorang putri bernama Hindun. Setelah dewasa, Hindun masuk Islam dan beranak banyak. Sebagian lagi menulis, bahwa dari Atik juga mendapat seorang putra bernama Abdullah atau Abdi Manaf. Kemudian Khadijah r.ha. menikah dengan Abu Halah. Riwayat menyebutkan bahwa dari pernikahan tersebut, mendapatkan dua orang anak bernama Hindun dan Halah. Kebanyakan meriwayatkan bahwa keduanya adalah laki-laki. Sebagian lagi menulis, Hindun laki-laki dan Halah perempuan. Hindun masih hidup terus sampai jaman kekhalifahan Ali ra..

Setelah meninggalnya Abu Halah, Khadijah menikah dengan Rasulullah saw.. Ketika itu, Khadijah berumur 40 tahun. Beliau telah menjalani pernikahan bersama Rasulullah selama 25 tahun. Dan pada bulan Ramadhan tahun ke-10 hijrah, Khadijah r.ha. wafat dalam usia 65 tahun. Nabi saw. sangat mencintai Khadijah r.ha., pada masa hidupnya, beliau tidak menikah dengan wanita lain. Gelar Khadijah r.ha. dari sebelum Islam adalah Thahira (wanita suci). Karena itulah, anak-anaknya dari suami-suami sebelumnya juga disebut dengan Banu Thahira. Keutamaan dirinya telah banyak ditulis dalam kitab- kitab hadits. Ketika Khadijah meninggal dunia, Rasulullah saw. sendiri yang turun ke makam dan menguburnya. Pada waktu itu, shalat jenazah belum disyariatkan.

2. Saudah r.ha.

Setelah Khadijah r.ha., pada bulan Syawal tahun yang sama, Rasulullah saw. menikah dengan 'Aisyah dan Saudah r.ha.. Disini pun terdapat perbedaan pendapat; siapakah yang lebih dulu dinikahi Nabi saw.. Sebagian ahli Tarikh mengatakan, yang pertama dinikahi oleh Rasulullah saw. setelah Khadijah adalah Saudah r.ha., kemudian 'Aisyah r.ha.. Sebagian lagi berpendapat sebelum Saudah, Aisyah terlebih dahulu.

Saudah r.ha. juga seorang janda. Ayahnya bernama Zam'ah bin Qais. Pada mulanya, ia telah menikah dengan saudara sepupunya yang bernama Sakran bin Amar. Keduanya telah masuk Islam serta ikut hijrah ke Habasyah, dan Sakran ra. meninggal dunia di sana.

Sebagian ahli sejarah ada yang menulis bahwa Sakran wafat setelah kembali ke Mekkah. Beberapa hari setelah wafatnya Sakran, pada tahun ke-10 kenabian, meninggallah Khadijah r.ha.. Dan beberapa hari setelah itu, Saudah r.ha. dinikahi oleh Rasulullah saw.. Dan kebanyakan ahli tarikh justru menulis, 'Aisyah r.ha. yang lebih dahulu dinikahi, sebagaimana yang kita ketahui.

Salah satu kebiasaan suci Rasulullah saw. adalah menyibukkan diri dalam shalat. Suatu saat, Saudah r.ha. bertanya kepada Nabi saw., "Mengapa engkau tadi malam shalat dengan ruku' yang sangat panjang, sehingga keluar darah (mimisan) dari hidungku (Saudah r.ha. ikut shalat di belakang Rasulullah saw.. Mungkin karena badannya yang gemuk, sehingga hal itu terasa berat baginya).

Pernah Rasulullah saw. berniat menceraikannya, namun Saudah r.ha. berkata, 'Ya Rasulullah, saya tidak berkeinginan mempunyai suami, tetapi saya berharap agar di surga nanti saya termasuk golongan istri-istri engkau. Untuk itu jangan cerai saya, saya relakan giliran hari saya diberikan kepada 'Aisyah r.ha.'. Akhirnya Rasulullah saw. menerima usulan tersebut, dan giliran hari Saudah diberikan kepada 'Aisyah r.ha..

Pada tahun 54 atau 55 Hijriyah. Sebagian lagi menulis pada akhir masa kekhalifahan Umar ra., Saudah wafat.

Di samping itu, ada seorang wanita lagi bernama Saudah, yang berasal dari Quraisy., Rasulullah saw. pun berniat untuk menikahinya. Namun Saudah r.ha. menyatakan, "Ya Rasulullah, orang yang paling saya cintai di dunia ini adalah engkau. Akan tetapi saya mempunyai, lima atau enam anak. Saya khawatir jika mereka mengganggumu dengan tangisan mereka." Rasulullah saw. sangat senang dengan jawaban tersebut. Beliau saw. memujinya dan akhirnya mengurungkan niatnya untuk menikahinya.

3. 'Aisyah r.ha.

Pernikahan Rasulullah saw. dengan 'Aisyah r.ha. juga terjadi di Mekkah, yaitu sebelum hijrah pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian. Ketika itu, 'Aisyah r.ha. masih berumur enam tahun. Diantara istri-istri Nabi saw. yang dinikahi oleh beliau dalam keadaan perawan hanyalah 'Aisyah r.ha., sedangkan yang lainnya dinikahi oleh Rasulullah saw. dalam keadaan j anda. 'Aisyah r.ha. lahir pada tahun ke- 4 kenabian. Setelah hijrah, ketika umur 'Aisyah r.ha. sembilan tahun, barulah ia dibawa ke rumah Nabi saw.. Pada usia 'Aisyah r.ha. 18 tahun, Rasulullah saw. wafat. Dan 'Aisyah r.ha. wafat pada usia 66 tahun, malam Selasa, tanggal 17 Ramadhan 57 Hijriyah. Sebelum wafatnya, ia berpesan." Kuburkanlah saya di pekuburan umum dimana telah dimakamkan juga istri-istri Nabi saw. lainnya ". Ia tidak dikuburkan di dalam bilik Rasulullah saw., tetapi dimakamkan di pemakaman Baqi.

Terkenal dalam budaya Arab, bahwa pernikahan di bulan Syawal adalah sangat berkah. 'Aisyah r.ha. berkata, "Pernikahan saya pada bulan Syawal, dan saya pindah ke rumah Rasulullah saw. juga pada bulan Syawal. Siapakah istri Rasulullah saw. yang paling beruntung dan yang paling dicintainya olehnya?1

Setelah wafatnya Khadijah r.ha., Khaulah binti Hakim r.ha. datang kepada Rasulullah saw., dan bertanya, "Ya Rasulullah, apakah engkau tidak menikah lagi?" Jawab beliau, "Dengan siapa?" Khaulah r.ha. bertanya lagi, "Yang perawan ada, janda juga ada, yang mana engkau sukai." Lanjutnya, "Apabila engkau menginginkan perawan, maka adalah anak sahabat dekatmu sendiri, yaitu putri Abu Bakar Shiddiq r.ha.; 'Aisyah r.ha.. Dan jika engkau menghendaki janda, maka Saudah binti Zam'ah." Jawab Nabi saw., "Baik, bicarakanlah dengannya, nanti saya lihat." Selanjutnya, Khaulah pergi ke rumah Abu Bakar ra., dan berkata kepada Ummu Ruman r.ha. - ibu 'Aisyah r.ha., "Saya ke sini membawa keberkahan dan kebaikan yang besar." "Mengenai hal apa?" Jawab Khaulah, "Rasulullah saw. mengirim saya untuk meminang 'Aisyah." Sahut Ummu Ruman r.ha., "Dia kan masih keponakannya, bagaimana mungkin dinikahi. Tetapi baiklah kita tunggu Abu Bakar ra." Ketika itu Abu Bakar ra. sedang tidak ada di rumah. Ketika datang, diceritakan kepadanya berita tersebut dan jawaban Abu Bakar ra. juga sama seperti jawaban Ummu Ruman, dia itu keponakannya bagaimana bisa dinikahi?

Kemudian Khaulah r.ha. menjumpai Nabi saw. dan menceritakan semuanya. Jawab Nabi saw., "Ia hanya anak saudara se islam. Putrinya boleh dinikahi olehku." Maka, Khaulah r.ha. segera kembali ke rumah Abu Bakar ra. dan memberitahukan jawaban Rasulullah saw.. Beberapa saat kemudian, dijawab oleh Abu Bakar ra., agar Rasulullah saw. datang sendiri. Lalu, beliau saw. pun hadir di situ dan menikahlah keduanya.

Selang beberapa bulan setelah hijrah, Abu Bakar ra. bertanya kepada Nabi saw., "Mengapa istrimu tidak engkau ajak?" Rasulullah saw. menyatakan belum mempersiapkan barang-barang. Kemudian Abu Bakar ra. memberikan beberapa bekal dan persiapan. Setelah semuanya siap, maka pada waktu Dhuha', bulan Syawal tahun 1 atau 2 Hijrah, Abu Bakar ra. mengirimkan putrinya ke rumah Rasulullah saw.. Inilah ketiga pernikahan Rasulullah saw. sebelum hijrah. Setelah itu, semua pernikahan-pernikahan beliau dilakukan setelah hijrah.

4. Hafsah r.ha.

Setelah menikah dengan 'Aisyah r.ha., Rasulullah saw. menikah dengan Hafsah binti Umar r.ha.. Hafsah dilahirkan lima tahun sebelum kenabian di Mekah. Sebelumnya Hafsah r.ha. telah menikah dengan Khunais bin Khudzafah ra. di Mekkah., ia pun termasuk sahabat yang awal memeluk Islam dan ikut hijrah ke Habasyah, kemudian hijrah kembali ke Madinah. Ia juga menyertai perang Badar. Dan dalam perang tersebut atau dalam perang Uhud, ia terluka parah, yang lukanya sulit disembuhkan. Pada tahun ke-2 atau ke-3 hijrah, Khunais ra. wafat. Waktu itu Hafsah r.ha. ikut berhijrah dengan suaminya ke Madinah. Setelah ia menjanda, pada mulanya Umar ra. menawarkan Hafsah kepada Abu Bakar ra., ia berkata, "Saya ingin menikahkan Hafsah r.ha. denganmu." Tetapi Abu Bakar ra. hanya berdiam saja.

Ketika Ruqayyah, istri Utsman ra., yaitu putri Rasulullah saw. meninggal dunia, Hafsah r.ha. pun ditawarkan oleh Umar ra. kepada Utsman ra.. Jawab Utsman ra., "Saat ini saya belum berniat untuk menikah dulu." Kemudian Umar ra. mengadukan ini semua kepada Rasulullah saw., sabda beliau, "Saya akan menunjukkan bagi Hafsah ra. suami yang lebih baik daripada Utsman ra.. Dan bagi Utsman ra. istri yang lebih baik daripada Hafsah r.ha." Akhirnya, pada tahun kedua atau ketiga hijrah, Rasulullah saw. sendiri menikahi Hafsah r.ha., dan Utsman ra. dinikahkan dengan Ummi Kultsum putri Rasulullah saw..

Tentang kewafatan suami Ummi Kultsum r.ha., ahli tarikh berbeda pendapat, apakah kesyahidannya disebabkan luka pada perang Badar atau pada perang Uhud? Badar pada tahun kedua hijrah, dan Uhud pada tahun ketiga hijrah. Disebabkan perbedaan itulah, sehingga ada perbedaan mengenai pernikahannya.

Setelah itu, Abu Bakar ra. berkata kepada Umar ra., "Ketika engkau menawarkan Hafsah r.ha. kepada saya dan saya hanya diam saja, tentu engkau sangat bersedih dan mungkin tersinggung. Hal itu karena sebelumnya Rasulullah saw. sudah menyatakan kepadaku. Untuk itulah, saya tidak bisa menerimanya, dan saya tidak berhak mengatakan rahasia Rasulullah saw., karenanya aku diam saja. Jika Nabi saw. tidak menyatakan niatnya, tentu akan saya terima tawaranmu itu." Umar ra. berkata 'Sebenarnya yang lebih saya sedihkan daripada diamnya Abu Bakar adalah ketika ditolak Utsman ra."

Hafsah r.ha. adalah seorang ahli ibadah dan ahli zuhud. Sering kali, ia tidak tidur malam, dan siang harinya selalu berpuasa. Suatu ketika, ia pernah ditalak satu oleh Rasulullah saw.. Atas kejadian tersebut, Umar ra. sangat bersedih hati. Hal itu pun memang menyedihkan Rasulullah saw.. Kemudian, datanglah Jibril as., dan berkata, "Allah swt. memerintahkan agar rujuk kembali dengan Hafsah r.ha." Selain karena Hafsah r.ha. seorang istri yang ahli ibadah, juga karena khawatir atas kesedihan Umar ra.. Akhirnya, Rasulullah saw. rujuk kembali dengan Hafsah r.ha..

Hafsah r.ha. meninggal dunia di Madinah pada Jumadil 'Ula tahun 45 Hijriyah, dalam usia kurang lebih 63 tahun. Sebagian riwayat ada yang menyebutkan beliau wafat pada tahun 41 Hijriyah, dalam usia 60 tahun.

5.         Zainab Binti Khuzaimah r.ha.

Setelah menikah dengan Hafsah r.ha, Rasulullah saw. menikah dengan Zainab binti Khuzaimah. Ia adalah seorang janda. Terdapat perselisihan mengenai pernikahannya yang pertama. Sebagian menulis bahwa suami pertamanya adalah Abdullah bin Jahsy ra., yang mati syahid dalam perang Uhud - kisahnya sudah dikisahkan pada Bab VII yang lalu-. Setelah meninggalnya Abdullah ra., Rasulullah saw. pun menikahinya.

Sebagian riwayat menulis bahwa ia pertama kali menikah dengan Tufail bin Harits. Setelah ditalak oleh Tufail ia dinikahi oleh saudaranya; Ubaidah bin Harits, yang juga mati syahid dalam perang Badar. Setelah itu, ia dinikahi Rasulullah saw. 31 bulan setelah hijrah, bertepatan pada bulan Ramadhan tahun ke-3 Hijrah. Selama 8 bulan dalam pernikahan bersama Rasulullah saw., dan pada bulan Rabi'ul Awwal tahun ke-4 Hijriyah, Zainab r.ha. meninggal dunia.

Khadijah r.ha. dan Zainab r.ha. adalah dua istri Nabi saw. yang wafat ketika Nabi saw. masih hidup. Sedangkan, sembilan istri lainnya meninggal dunia setelah Rasulullah saw. wafat. Zainab r.ha. sangat dermawan, sehingga sebelum Islam pun gelarnya adalah Ummul Masaakin, Ibunya orang-orang miskin.

6.         Ummu Salamah r.ha.

Setelah itu, Rasulullah saw. menikah dengan Ummu Salamah r.ha.. Ummu Salamah r.ha. adalah putri Abu Umayah, yang sebelumnya telah menikah dengan anak pamannya, yaitu Abu Salamah ra. yang aslinya bernama Abdullah bin Abdul Asad. Suami istri ini pada mulanya telah masuk Islam. Karena tidak tahan dari gangguan orang-orang kafir, mereka berhijrah ke Habasyah. Di Habasyah, lahirlah putra mereka bernama Salamah. Sekembalinya dari Habasyah, mereka hijrah ke Madinah, yang kisahnya telah dijelaskan dalam Bab V yang lalu. Setibanya di Madinah lahir pula putra mereka yang kedua; Umar ra., dan menyusul dua putrinya yang bernama Durah dan Zainab r.ha.

Abu Salamah ra. masuk Islam setelah orang yang kesepuluh, la mengikuti perang Badar dan Uhud. Di perang Uhud, ia terluka parah. Dan pada bulan Shafar tahun ke-4 Hijriyah, ia ikut berperang kembali, sehingga lukanya kambuh. Dan pada Jumadil Ukhra tahun ke-4 Hijriyah, Abu Salamah ra. meninggal dunia sebagai syahid. Ketika itu Ummu Salamah r.ha. sedang mengandung Zainab r.ha.. Ketika anaknya lahir, maka selesailah masa iddahnya.

Sebelumnya Abu Bakar ra. pernah menyatakan ingin menikahi Ummu Salamah r.ha., tetapi dia menolaknya. Kemudian Rasulullah saw. melamarnya, dan Ummu Salamah r.ha. menjawab, "Anak saya banyak, dan sifat saya pencemburu. Dan saya tidak mempunyai wali." Rasulullah saw. bersabda, "Yang menjaga anak-anak adalah Allah swt., dan sifat cemburu itu Insya Allah akan hilang. Dan semua orang tentu tidak akan marah terus-menerus." Akhirnya, Ummu Salamah berkata kepada anaknya, Salamah ra., "Nikahkanlah aku dengan Rasulullah saw.." Ia menikah dengan Rasulullah saw. pada akhir bulan Syawal tahun ke-4 hijrah. Sebagian riwayat mengatakan tahun ke-3 atau ke-2 hijrah.

Ummu Salamah r.ha. berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa mendapat musibah lalu membaca do'a;

 

ALLAHUMMA AJIRNI FI MUSHIBATI WAHLUFNI KHAIRON MINHA

 

"Ya Allah berilah pahala musibah yang telah menimpa hamba dan gantilah dengan yang lebih baik."

Maka, Allah swt. akan menggantikan baginya yang lebih baik." Setelah meninggalnya Abu Salamah ra., saya senantiasa membaca do'a ini. Namun saya berpikir siapakah orang yang lebih baik daripada Abu Salamah ra.? Kemudian Allah swt. menjodohkan saya dengan Rasulullah saw.."

'Aisyah r.ha. berkata, "Ummu Salamah ra. sangat terkenal dengan kecantikannya. Setelah pernikahan, secara diam-diam saya ingin melihatnya, ternyata kecantikannya memang lebih dari yang saya dengar. Kemudian saya pergi ke rumah Hafsah r.ha. dan menyatakan hal tersebut. Hafsah r.ha. berkata, "Kecantikannya tidak seperti yang dikatakan orang-orang."

Diantara Ummahatul Mukminin yang wafat paling akhir adalah Ummu Salamah r.ha., yaitu pada tahun ke-59 atau tahun ke-62 hijriyah, pada usia ketika itu 84 tahun. Ia lahir kurang lebih sembilan tahun sebelum kenabian. Setelah Zainab binti Khuzaimah meninggal dunia dan Rasulullah saw. menikah dengan Ummu Salamah r.ha., mereka menempati bekas tempat tinggal Zainab r.ha.. Di rumah itu ia mendapat tempat untuk menaruh biji-bijian dan satu kisaran gandum serta kuali untuk memasak. Dia sendiri yang menggiling biji-bijian tadi untuk dimasak dijadikan kue-kue halus. Pada hari pernikahannya, pertama kali Rasulullah saw. diberi makanan kue halus (melid) yang dimasak sendiri olehnya.

7. Zainab Binti Jahsy r.ha.

Setelah menikah dengan Ummu Salamah r.ha., Rasulullah saw. menikah dengan Zainab binti Jahsy r.ha.. Ia adalah putri pamannya. Sebelumnya ia menikah dengan Zaid bin Harits ra. anak angkat Rasulullah saw.. Setelah dicerai oleh Zaid ra., Allah swt. menikahkannya dengan Rasulullah saw., yang kisahnya terdapat dalam surat Al-Ahzab. Ketika itu usianya 35 tahun. Menurut riwayat yang terkenal, ia menikah dengan Rasulullah saw. pada bulan Dzulhijah tahun ke-5 hijrah, sebagian riwayat menyatakan pada tahun ke-3 hijrah; Yang benar pada tahun ke-5 hijrah. Jadi menurut tahun kenabian, kelahirannya adalah tujuh belas tahun sebelum kenabian. Dia sangat bangga bahwa semua istri-istri Nabi saw. dinikahkan oleh walinya, sedangkan dia sendiri dinikahkan oleh Allah swt..

Setelah Zaid ra. menceraikannya dan masa iddahnya sudah  selesai, Rasulullah saw. mengirim lamarannya kepada Zainab r.ha.. dan jawab Zainab r.ha., "Saya tidak bisa memutuskannya sebelum bermusyawarah dengan Allah swt.." Setelah mengatakan demikian, ia berwudhu, shalat dan berdo'a kepada Allah swt.. "Ya Allah, Rasulullah telah mengutus utusannya untuk meminangku, seandainya saya ini pantas untuk beliau, maka nikahkanlah saya dengan beliau"

Akhirnya turunlah ayat Al-Qur'an;

 

فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا (37(

 

"Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istri-istrinya (menceraikannya), kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk(mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan allah itu pasti terjadi. "(Al-Ahzab: 37)

Ayat ini memberi kabar gembira kepada Rasulullah saw.. Karena gembiranya, Zainab r.ha. terjatuh dalam sujudnya. Kemudian Rasulullah saw. merayakan walimah pernikahannya ini agak besar- besaran, yaitu dengan menyembelih kambing. Tamu-tamunya dijamu dengan daging dan roti. Jika satu rombongan sudah selesai makan, maka dipanggil rombongan lain masuk untuk makan, sehingga semua orang dapat makan dengan puas.

Zainab r.ha. sangat dermawan dan rajin bekerja. Hasil kerjanya biasa disedekahkan. Dialah yang disabdakan oleh Rasulullah saw., "Yang pertama kali bertemu dengan saya setelah saya mati adalah yang paling panjang tangannya." Para istri itu memahaminya betul-betul panjang tangan. Maka mereka mengambil sebatang kayu, lalu mereka mengukur tangan masing-masing. Dan yang terpanjang tangannya ialah Saudah r.ha.. Akan tetapi ketika Zainab r.ha. meninggal dunia setelah Rasulullah saw. wafat, mereka baru memahami bahwa tangan panjang itu ternyata orang yang paling banyak bersedekah. Ia pun sering berpuasa. Zainab meninggal dunia pada tahun ke-20 hijriyah pada usia 50 tahun. Dan yang menyalatkan jenazahnya adalah Umar ra., yang kisahnya sudah dikisahkan pada Bab X yang lalu.

8. Juwairiyah Binti Harits r.ha.

Setelah itu, Rasulullah saw. menikah dengan Juwairiyah binti Harits bin Dhirar r.ha.. Pada mulanya, ia adalah tawanan pada perang Muryasi'. Ia adalah bagian ghanimah Tsabit bin Qais ra.. Sebelum di tawan, Juwairiah r.ha. sudah dinikahi oleh Musafi bin Shafwan. Tsabit ra. telah menghargakannya dengan tebusan 9 keping emas. Maksud tebusan di sini adalah; seorang budak yang dihargakan untuk dilunasi. Jika lunas, maka hamba tadi akan bebas. Sekeping (uqiyah) emas sama dengan 40 dirham.

Suatu ketika, ia datang ke majelis Rasulullah saw. berkata, "Ya Rasulullah, saya adalah Juwairiyah putri pimpinan kaum kami yaitu Harits. Tentunya engkau sudah mengetahui musibah yang menimpa saya. Sekarang sebagai tebusan untuk kebebasanku, Tsabit telah menentukan harga tebus yang begitu banyak dan ini di luar kemampuan saya. Untuk itu aku datang berharap kepadamu."

Rasulullah saw. bersabda, "Saya akan memberimu jalan keluar yang lebih baik dari itu semua. Saya akan memberi harta untuk membebaskanmu. Setelah itu, saya akan menikahimu. Adakah jalan keluar yang lebih baik dari itu?" Dengan senang hati, usul itu diterima oleh Juwairiyah r.ha.. Kemudian, dalam riwayat terkenal, mereka menikah pada tahun ke-5 hijriyah, sebagian riwayat tahun ke-6 hijrah. Ketika para sahabat ra. mendengar Rasulullah saw. telah berbesanan dengan Banu Musthaliq, maka mereka segera membebaskan semua hamba sahaya tawanan dari Banu Musthaliq sebagai penghormatan atas perjodohan tersebut. Diceritakan dalam sebagian tarikh, bahwa disebabkan Juwairiyah r.ha. telah dinikahi oleh Rasulullah saw., maka 100 keluarga dari Banu Musthaliq telah dibebaskan, berarti kurang lebih 700 orang tawanan. Ini adalah suatu kebaikan yang pernah terjadi akibat dari sekian banyak pernikahan Rasulullah saw..

Juwairiyah r.ha. adalah wanita yang sangat cantik, mukanya berseri-seri. Dikatakan jika terpandang wajahnya, maka akan sulit untuk berpaling. Juwairiyah r.ha. berkata, "Tiga hari sebelum perang terjadi, saya bermimpi melihat bulan datang dari arah Yatsrib (Madinah) dan masuk ke pangkuannya. Ketika ditahan di Madinah, maka saya berharap agar mimpi itu menjadi kenyataan." Ketika itu, usianya 20 tahun. Ia meninggal pada bulan Rabiul Awwal tahun ke-50 Hijriyah pada usia 65 tahun di Madinah. Sebagian riwayat mengatakan bahwa ia meninggal dunia pada tahun 56 Hijriyah, jadi pada usia 70 tahun.

9. Ummu Habibab r.ha.

Ummul Mukminin Ummi Habibah r.ha. adalah putri Abu Sofyan. Terdapat perselisihan tentang nama aslinya. Kebanyakan menyebutnya Marmalah, sebagian lagi menyebutkan Hindun. Ia menikah pertama kali dengan Ubaidullah bin Jahsy ra. di Mekkah, keduanya masuk Islam pada masa permulaan. Disebabkan kaum kuffar banyak yang menganggu mereka, maka mereka terpaksa meninggalkan Mekkah dan berhijrah ke Habasyah. Setibanya disana, suaminya masuk Kristen, sedangkan Ummu Habibah sendiri tetap memeluk Islam.

Suatu ketika, ia melihat suaminya dalam mimpinya dalam bentuk yang sangat buruk. Keesokan paginya, ternyata suaminya telah masuk ke agama Kristen. Dalam keadaan demikian, ia merasa risau, dan Allahlah yang Maha Tahu. Namun, kemudian Allah swt. mengganti kenikmatan baginya, yaitu dinikahkan dengan Rasulullah saw..

Rasulullah saw. mengirim utusan kepada raja Habasyah, Najasi, agar ia berkenan menikahkan Rasulullah saw. dengan Ummu Habibah r.ha.. Kemudian Najasy mengirim seorang utusan wanita bernama Abraha kepada Ummu Habibah untuk menyampaikan kabar tersebut. Demikian gembira mendengar berita tersebut, lalu dilepaslah dua perhiasan di tangannya, juga perhiasan kaki dan benda-benda lain, ia hadiahkan kepada penyampai berita tersebut. Raja Najasy sendiri yang menikahkannya dan ia mengirimkan uang mahar sebanyak 400 dinar emas. Ditambah hadiah-hadiah lainnya, dan orang-orang yang datang ke pernikahan tadi juga diberi dinar dan diberi makan.

Terdapat perbedaan; Apakah pernikahan tersebut teijadi pada tahun ke-7 hijrah. Inilah riwayat yang terkenal, atau pada tahun ke-6 hijrah. Sebagaimana ahli sejarah berkata Khamis telah menulis bahwa pernikahannya teijadi pada tahun ke-6 hijrah, dan baru (berkumpul) dengan Rasulullah saw. pada tahun ke-7 hijrah. Ketika sampai di Madinah, Raja Najasy banyak mengirim minyak wangi dan barang- barang lain setelah pernikahannya. Sebagian kitab sejarah dan hadits, ada juga yang meriwayatkan bahwa yang menikahkannya ialah bapaknya, akan tetapi pendapat ini tidak benar. Karena pada waktu itu bapaknya belum masuk Islam, baru setelah pernikahan itu bapaknya masuk Islam. Kisah ini juga telah dikisahkan pada Bab IX yang lalu. Masalah tahun meninggalnya Ummu Habibah r.ha. ada berlainan riwayat. Kebanyakan riwayat menulis pada tahun 44 Hijriyah, juga ada yang menyatakan pada tahun 42 hijriyah, 55 hijriyah atau 50 hijriyah.

10. Shafiyah r. h a.

Ummul Mukminin, Shafiyah r.ha. adalah putri Hayya, yaitu masih satu keturunan Nabi Musa as. dan Harun as.. Sebelumnya ia telah menikah dengan Salam bin Masykam, kemudian ia dinikahi oleh Kinanah bin Abi Hakik, pada awal perang Khaibar. Dan suaminya terbunuh dalam perang tersebut. Lalu, seorang sahabat bernama Dihyah Al-Kalbi ra., meminta kepada Rasulullah saw. agar diberi hamba sahaya wanita. Rasulullah saw. memberinya Shafiyah r.ha..

Karena Shafiyah r.ha. adalah putri salah satu pimpinan dua kabilah besar, yaitu Banu Quraidhah dan Banu Nadhir di Madinah, maka orang-orang kurang menyukai jika Shafiyah menjadi budak Dihyah Al-Kalbi. Kecuali jika Shafiyah r.ha. dinikahi Rasulullah saw., tentu mereka akan merasa bangga.

Akhirnya Rasulullah saw. mengambil Shafiyah r.ha. dari Dihyah ra.. lalu dimerdekakan, dan dinikahi oleh Nabi saw.. Dan di sebuah tempat dalam perjalanan pulang dari Khaibar, mereka berkumpul pagi harinya. Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa memiliki makanan, hendaknya dibawa ke sini." Para sahabat segera mengumpulkan makanan yang ada, seperti; kurma, manisan, buah pir, minyak dan lainnya. Lalu makanan-makanan itu ditaruh di atas alas makan kulit, dan mereka semua makan bersama-sama. Inilah walimahnya.

Dalam sebagian riwayat ditulis, Rasulullah saw. memberi kebebasan kepada Shafiyah r.ha., "Jika kamu ingin tinggal bersama kaummu, kamu boleh pergi atau jika kamu bersedia menjadi istri Nabi saw. tinggalah di sini. Shafiyah r.ha. berkata, "Ya Rasulullah, ketika saya masih musyrik, saya bercita-cita ingin menjadi istri engkau. Lalu apakah setelah saya masuk Islam, saya akan melepas begitu saja cita- cita saya?"

Maksudnya ialah; Sebelum memeluk Islam, ia telah bermimpi; Ada pecahan bulan yang jatuh di pangkuannya. Setelah mimpi itu diceritakan kepada suaminya, Kinanah, ia ditampar oleh Kinanah, sehingga terluka di dekat matanya. Dan luka itu berbekas lama di mukanya. Suaminya berkata, "Apakah kamu ingin menikah dengan Raja Yatsrib?" Pada kali yang lain, ia kembali bermimpi bahwa matahari terletak di dadanya. Lalu ia ceritakan mimpi itu kepada suaminya. Suaminya berkata, "Kamu ingin menikah dengan Raja Yatsrib?" Pada saat lain, ia bermimpi lagi bahwa bulan terletak di pangkuannya. Setelah diceritakan mimpi itu kepada bapaknya, bapaknya menamparnya dan berkata, "Apakah perhatianmu kepada Raja Yatsrib?"

Mungkin mimpi melihat bulan tadi hanya satu kali. Disamping diceritakan kepada suaminya, juga diceritakan kepada bapaknya. Atau memang ia bermimpi dua kali melihat bulan, dan sekali bermimpi melihat matahari.

Menurut suatu riwayat yang disepakati kebenarannya, ia meninggal pada bulan Ramadhan tahun 50 Hijriyah, pada usia 60 tahun. Dia sendiri berkata, "Ketika saya dinikahi Rasulullah saw., saya belum genap berumur 17 tahun."

11. Maimunah r.ha.

Ummul Mukminin, Maimunah r.ha. adalah anak Harits bin Hazn, yang bernama asli Barah. Rasulullah saw. telah mengganti namanya dengan Maimunah r.ha.. Sebelumnya ia telah menikah dengan Abu Rahn bin Abdul Uzza. Demikianlah pendapat sebagian besar ahli Tarikh. Dan banyak pendapat mengenai nama suami sebelumnya. Mengenai nama suami yang sebelumnya, ada riwayat yang berbeda-beda. Diriwayatkan bahwa sebelum dengan Nabi saw., ia sudah menikah dua kali. Setelah menjadi janda pada bulan Dzulqaidah tahun ke-7 hijrah, ketika Rasulullah saw. mengadakan perjalanan ke Mekkah untuk umrah, pada saat itulah, Rasulullah saw. menikahi Maimunah r.ha. di Saraf.

Rasulullah saw. berniat sekembalinya dari umrah, beliau akan mengumpuli Maimunah r.ha. di Mekkah. Akan tetapi orang-orang Mekkah tidak mengijinkan beliau saw. tinggal di Mekkah. Akhirnya Maimunahr.ha. dijemput dari Saraf dengan satu kemah khusus.

Menurut pendapat shahih yang disepaki, Maimunah r.ha. meninggal dunia pada tahun ke-51 hijrah, riwayat lain pada tahun ke- 61 hijrah, pada usia 81 tahun. Ini adalah suatu tempat dalam perj alanan sejarah yang aneh; menikah di tempat itu, dijemput (diiringi) dari tempat itu dan meninggal juga di tempat itu.

'Aisyah r.ha. berkata, "Maimunah r.ha. adalah yang paling bertakwa di antara kami, dan paling menjaga silaturrahmi." Yazid bin Ashamra. berkata, "Setiap saat Maimunah r.ha. hanya shalat atau sibuk dengan pekerjaan rumah tangga. Apabila selesai dari keduanya, ia senantiasa sibuk dengan bersiwak." Para ahli hadits dan tarikh telah bersepakat bahwa pernikahan Maimunah r.ha. dengan Rasulullah saw. adalah pernikahan Rasulullah saw. yang terakhir (sepakat mengenai istri-istri terakhir). Sedangkan yang di pertengahan itu ada perbedaan riwayat. Untuk itulah mengenai pernikahan dengan mereka pun ada perbedaan, sebagaimana telah kita ketahui secara singkat. Dari sebelas istri tersebut, dua istri Nabi saw. yang wafat di hadapan beliau saw., yaitu Khadijah r.ha. dan Zainab bin Khuzaimah r.ha.. Sedangkan sembilan istri beliau lainnya, masih hidup ketika Rasulullah saw. meninggal dunia. Selain dari pernikahan-pemikahan ini ada riwayat yang menuliskan pernikahan beliau yang lainnya, yang telah diperdebatkan oleh para ahli hadits ataupun sejarah. Untuk itu, kisah- kisah ini adalah istri-istri beliau yang semua ahli hadits dan tarikh sepakat mengenainya.

Komentar